Satu waktu, seorang hamba Allah merenung dalam heningnya suasana malam… atas apa yang sedang menimpanya.
“Tiap malem,,, ku usahakan untuk berdiri menghadap sang kekasih. melawan makhluk halus yang paling usil di jagat raya ini demi mendapatkan-Nya. Siang hari, ku tumpas egoku dan nafsuku, demi DIA pencipta alam semesta ini.
ku adukan apa yang aku alami. ku pinta apa yang ku ingini. ku curahkan apa yang ingin ku miliki. segala apapun yang ada di hadapanku dan aku alami… pasti ku adukan pada-Nya. DIA tak pernah lelah, tak pernah bosan, tak pernah marah dan DIA pun tak pernah mengeluh atas apa yang ku adukan. tapi kenapa, apa yang ku pinta tak terkabulkan oleh-MU? apakah aku salah berbuat? apakah aku salah ucap? apakah ku salah langkah dalam bertindak? apakah aku salah menganggap? apakah aku salah tangkapa?. Apa sebab semua ini? ku menjalankan perintah-Mu di tiap waktu… ku menjalankan semua yang pernah utusan-Mu contohkan dan ajarkan.. apa sebab semua ini.”
Itulah sepenggalan kisah hamba Allah dalam perenungannya.
Allah berfirman dalam Quran surat Al-Baqoroh ayat 186, yang artinya: “… Aku perkenangkan do’a orang yang memohon kepada-Ku“
Jarang sekali manusia mencari sebab kenapa doa yang di panjatkan pada Allah tidak di perkenangkan. padahal penyebabnya itu ada pada dirinya sendiri. dan sesungguhnya islampun telah mengajarkan kepada kita agar kita dapat berdo’a dengan sepenuh hati.
Yakinilha bahwa do’a kita akan di kabulkan oleh Allah. seperti yang di terangkan dan di jelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang artinya: “Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkannya. Allah tidak akan memperkenangkan do’a seseorang yang hatinya membelakang menerawang “. islam tuh memang baik yach,,, segala sesuatu di atur Oleh Allah agar mendapatkan keRidhoan-Nya sehingga kita terjaga dari siksanya.
Menurut Ibrahim bin Adham, ada sepuluh sebab kenapa do’a kita tidak diperkenangkan oleh Allah.
Yang pertama adalah kita telah mengenal Allah, ma’rifat pada-Nya. Tetapi, kita tidak memenuhi hak Allah. dan hak Allah adalah di ibadahi.
Yang kedua adalah kita membaca Al-Quran dengan suara yang indah, tetapi tidak di maknai dan tidak di amalkan, bahkan tidak di jadikan pedoman hidup. padahal, Al-Quran itu terjaga keasliannya dan Al-Quran pun dapat menjawab setiap tantangan zaman.
Yang ketiga adalah kita selalu mengejar agar cinta kepada Rosululloh. tetapi, meninggalkan ajaran dan sunnahnya. padahal dalam hadits yang di riwayatkan oleh Tirmidzi sudah jelas di terangkan bahwa “siapa yang cinta akan sunahku (Rosul), maka dia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di syurga“. dan dalam riwayat Muslimpun ” maka barang siapa yang mengikuti sunahku, maka dia termasuk golonganku”.
Yang keempat adalah mengatakan musuh pada setan. tetapi, patuh kepadanya. hawa nafsu iya ikuti, dikuasainya bahkan dijadikan berhala. dan ingatlah Nafsu itu adalah induk segala berhala.
Yang kelima adalah Berdoa agar dihindari dari api neraka. tetapi, dia menjerumuskan diri kedalam api neraka dengan jalan maksiat, zina dan perbuatan buruk yang lainnya.
Yang keenam adalah Berdo’a ingin masuk syurga tetapi tak pernah terlintas dalam benaknya untuk berbuat baik.
Yang ketujuh adalah mengatakan kematian itu pasti datang. namun tidak mempersiapkannya, padahal kematian itu tak ada satu orangpun yang mengetahui kapan dirinya akan menghadap sang Ilahi.
Yang kedelapan adalah sibuk memikirkan aib orang lain, tetapi aib diri sendirinya pun tak terfikirkan.
Yang kesembilan adalah memakan Nikmat Ilahi, tetapi tidak bersyukur. dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 34 “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)“.
Yang kesepuluh adalah turun untuk menguburkan jenazah, namun tidak bisa mengambil suatu pelajaran dari peristiwa itu.
nah,,, itulah yang digambarkan Ibrahim bin Adham dalam menyikapi “Apa penyebab do’a tidak diperkenangkan oleh Allah”. semoga kita dapat mengevaluasi diri kita dan membenahi diri kita dalam bertindak.
Nama : Farah Fatihah
Kelas : 3 B mu’allimien
Pesantren Persatuan Islam no 1 Bandung.
